Cara berbicara agar anak mendengarkan kita sebagai orang tua
0 Comments

cara kita berbicara dengan anak-anak kita memiliki dampak yang signifikan terhadap pembelajaran dan kemampuan mereka untuk mendengarkan kita. Kita sebagai orangtua terus menjadi model bagi anak-anak kita bagaimana bertindak dan berperilaku, dan cara kami berbicara dengan mereka masuk dalam kategori ini. Cara kita berbicara kepada mereka dan orang lain menunjukkan kepada mereka bagaimana kita ingin mereka merespons kita. Saya telah menemukan bahwa pada umumnya ada tiga cara berbeda orang tua berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Yang pertama adalah gaya komunikasi yang agresif. Orang tua ini sering berteriak, menurunkan anak-anak mereka dan menggunakan kata-kata menyerang. Anak-anak mereka merespons dengan berbagai cara, terutama dengan lebih banyak bertindak, merasa takut, berteriak kembali dan mengabaikan perintah orang tua mereka. Bentuk komunikasi kedua yang biasa dilihat adalah bentuk pasif.

Orang tua yang menggumamkan kata-kata lembut dan hati-hati kepada anak-anak mereka sering menemukan bahwa anak-anak mereka berjalan di sekitar mereka. Sayangnya, orang tua ini sangat pasif sehingga kadang-kadang ketika mereka didorong ke batas mereka, mereka tiba-tiba mengubah nada mereka menjadi agresif. Cara ketiga orang tua dapat berkomunikasi dengan anak-anak mereka adalah dengan ketegasan sejauh ini ini adalah cara paling efektif untuk berinteraksi dengan anak-anak di semua tingkatan. Komunikasi asertif adalah konsisten, jelas, positif, hangat dan percaya diri. Berkomunikasi secara asertif dengan anak-anak adalah keterampilan yang nyata, namun itu menunjukkan kepada anak-anak anda bahwa ibu dan ayah tahu apa yang mereka bicarakan dan dengarkan. Berikut adalah tips utama saat berbicara dengan anak kalian.

Gunakan nama anak anda saat memanggil. Hal tersebut untuk membantu mendapatkan perhatian mereka sebelum mengirimkan pesan anda. Misalnya, “cinta, tolong pergi dan dapatkan …” Anak-anak kecil seringkali hanya dapat berkonsentrasi pada satu hal pada suatu waktu. Panggil nama anak anda sampai anda mendapatkan perhatian mereka sebelum anda berbicara. Contoh lainnnya”Helen.” (Tunggu sampai dia berhenti menendang bola dan melihatmu.) “Makan siang akan siap dalam sepuluh menit.” Gunakan bahasa positif. Cobalah untuk tidak mengatakan “tidak” atau “jangan” sepanjang waktu. Jika kita berkata, “Jangan jatuhkan gelas itu,” atau “Jangan berlari di dalam,” atau “Jangan seret mantelmu ke tanah,” anak anda memiliki pemikiran dan gambar yang tertanam dalam pikiran mereka dan malah akan lebih sering membuat mereka akan menjatuhkan gelas! Sebaliknya, cobalah untuk mengatakan apa yang Anda ingin mereka lakukan.

Misalnya, “Tolong, hanya berjalan di dalam,” atau “Pegang gelas itu, itu gelas yang istimewa,” atau “Pegang mantelnya, jadi tidak seret.” Gaya berkomunikasi ini membutuhkan banyak pemikiran dan latihan, tetapi sangat berharga. usaha. Cobalah untuk menghilangkan kata-kata yang anda gunakan yang mungkin mengejek “kamu bertingkah seperti bayi besar.”, “dasar kamu anak nakal.”, Dan mempermalukan “Saya sangat malu garagara kamu hari ini . “. dengan mengatakan hal-hal tersebut akan membuat anak kalian merasa tidak berharga. Anak-anak akan sering memutuskan komunikasi dengan oranngtua yang menggunakan kata-kata ini dan mulai mengembangkan konsep diri yang buruk. Kata-kata positif dan ramah memberi anak anda lebih banyak kepercayaan diri, menghasilkan lebih banyak kebahagiaan dan perilaku positif, sementara juga mendorong mereka untuk berusaha keras dan mencapai kesuksesan. Anak-anak belajar meniru anda dan memberikan rasa hormat dan pujian yang sama kepada orang lain. Contoh kata-kata positif adalah: “Saya suka cara kamu ingat untuk mengemas mainan sendiri,” “Terima kasih telah membantu saya membersihkan kekacauan ini,” dan, “kamu berusaha sangat keras untuk berbagi barang-barang kamu dengan kakak kamu, itu membuat ibu/ayah merasa sangat bahagia. ”